Breaking News
recent

RUSYIADI SULAP KOTORAN SAPI MENJADI BARANG BERHARGA ,DIGANJAR PENGHARGAAN DARI KASAD.





Tanah Datar.
Siapa bilang kotoran sapi tidak berharga ,buktinya Pelda Rusyiadi (47) seorang Babinsa Kodim 0307 Tanah datar warga Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas ,Tanah Datar berhasil memanfaatkan kotoran sapi menjadi barang yang sangat berharga .
Berkat keuletan dan kerja keras serta dibarengi keinginan untuk berbakti pada dunia pertanian dan peternakan Dia mendapat penghargaan yang diberikan oleh Kasad Jenderal TNI Mulyono. Pelda Rusiyadi menerima penghargaan atas prestasinya membentuk kelompok usaha bayar listrik dengan Kotoran Sapi (Kubalikopi).
Pelda Rusiyadi yang berinovasi untuk memajukan usaha kelompoknya, salah satunya dengan membuat program bayar rekening listrik dengan kotoran sapi. Program ini selain bertujuan untuk meningkatkan produksi kompos, juga membantu meringankan beban anggotanya dalam membayar tagihan rekening listrik tiap bulannya.
Sistemnya, hasil penjualan kompos dari kotoran sapi yang dikumpulkan dari anggotanya disisihkan untuk membayar listrik, jika dananya tersisa akan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk kompos.
Menurutnya, ide bayar rekening listrik dengan kotoran sapi berawal dari bimbingan CSR (Corporate Social Responsibility) yang diselenggarakan PLN setempat.
"Waktu itu ada bimbingan dan bantuan dari CSR PLN berupa mesin pembuat kompos, selanjutnya saya tawarkan kepada anggota kelompok bagaimana kalau bayar tagihan listrik dengan kotoran sapi
Sistemnya, hasil penjualan kompos dari kotoran sapi yang dikumpulkan dari anggotanya disisihkan untuk membayar listrik, jika dananya tersisa akan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk kompos.
“Saat ini kita telah berhasil mengumpulkan kotoran sapi masyarakat sebanyak 350 kilo perhari dan dengan kita mengolahnya menjadi kompos seberat  700 kilo yang kana kita edarkan ke pihak pembeli “Ujar Rusyiadi saat ditemui oleh Rakyat Sumbar Kamis (17/11)
Lebih lanjut Rusyiadi menyebutkan ,umumnya tujuan para peternak dalam beternak sapi adalah untuk mendapatkan daging sapi melalui proses pertambahan berat badan sapi. Selain menghasilkan daging, dalam beternak sapi juga dihasilkan produk lain seperti kulit, tulang, darah, urin dan kotoran atau limbah sapi.
“Dari berbagai produk beternak sapi tersebut, salah satu yang menjadi masalah, sehingga bisa merepotkan pemilik ternak adalah kotoran sapi. Betapa tidak. Untuk seekor sapi betina bisa menghasilkan kotoran antara 8 sampai 10 kilogram/harinya. Jika sapi yang diperlihara jumlahnya banyak dan cara pemeliharaannya dibiarkan berkeliaran di berbagai tempat,  tanpa pengkandangan dan pemeliharaan yang baik, dapat dipastikan kotoran sapi akan berceceran dimana-mana. Hal tersebut tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena selain mengganggu dan mengotori lingkungan, juga sangat berpotensi untuk  menimbulkan penyakit bagi masyarakat sekitarnya” Ucapnya .
Kotoran sapi inipun semula menjadi persoalan tersendiri bagi Kelompok Tani Bangun Nagari ,Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas,Tanah Datar  ,maka Pada tahun 2014 ini Rusyiadin mendapat bantuan CSR dari P3B PT PLN Sumaterayang bertujuan untuk pengembangan usaha dan peningkatan pendapatan petani.
“Dilatar belakangi  dengan bertambah banyaknya jumlah ternak, kotoran sapi yang dihasilkan pun terus meningkat, sehingga jika dibiarkan begitu saja dapat mengganggu lingkungan dan berpotensi menimbulkan penyakit, untuk itulah perlu ada upaya untuk mengatasinya” Ungkap Rusyiadi.
Agar kotoran sapi tidak menjadi limbah yang menjijikan dan mencemarkan lingkungan,P3B Sumatera melakaukan pembinaan yang diikuti oleh Rusyiadi dan beberapa kelompok Di Kabupaten Tanah datar . Melalui pembinaan yang intensif, kotoran sapi — yang mungkin bagi sebagian peternak dianggap sebagai limbah yang tidak bermanfaat, ditangan Ruysiadi dan rekan-rekannya  limbah tersebut justru bisa diolah menjadi Kompos yang sangat bermanfaat untuk digunakan penyubur tanah.
“Perlu dipahami, bahwa proses komposing adalah dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa-senyawa kompleks menjadi sederhana dengan bantuan mikroba. Komposing sangat penting dilakukan, karena bahan-bahan organik memiliki beberapa permasalahan seperti : memiliki C/N ratio (imbangan karbon dan niteogen) yang tinggi; kadar air atau kelembaban tinggi; kadar oksigen rendah; dan ketersediaan mikroba relatif sedikit”Terang Rusyiadi.
Lebih lanjut Rusyiad menerangkan ,Pengolahan kotoran sapi menjadi kompos bisa dilakukan oleh peternak dimanapun berada, karena caranya sederhana, mudah diikuti dan bahannya tersedia disekitar peternak sendiri dengan langkah awal yang dilakukan dalam pengolahan kotoran sapi menjadi kompos adalah, menyiapkan dan mengumpulkan bahan yang diperlukan, yaitu , Kotoran sapi minimal 40%, dan akan lebih baik jika bercampur dengan urin, Kotoran ayam maksimum 25% (jika ada),  Serbuk dari kayu sabut kelapa 5% atau limbah organik lainnya seperti jerami dan sampah rumah tangga,  Abu dapur 10%,    Kapur pertanian,      Stardec 0,25%.
“Mengingat Stardec merupakan stimulan untuk pertumbuhan mikroba (Stardec dapat pula merupakan agregat bakteri atau cendawan dorman) maka billa stardec tidak tersedia dapat diganti dengan kompos yang sudah jadi, karena di dalam kompos juga tersedia agregat bakteri atau cendawan pengurai bahan organic yang sedang dorman” Ujarnya .
Disampaikan ,Setelah semua bahan terkumpul, dilakukan  proses pengolahan kompos dan agar dalam proses pengolahan kotoran sapi menjadi kompos lebih efektif dan efisien, sebaiknya pengolahannya dilakukan pada sebuah bangunan.
“Ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan petani yang menggunakan kompos untuk pertanaman. Diantaranya  Hemat biaya dan tenaga,Pupuk organik yang dihasilkan berkualitas tinggi,    C/N ratio kurang 20 Bebas dari biji-biji gulma (tanaman liar) dan mikroba pathogen.,    bebas dari patogenik atau yang merugikan jamur-jamur akar serta parasit lainnya,    bebas phytotoxin,  tidak berbau dan mudah menggunakannya,  tidak membakar tanaman,dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik, man untuk semua jenis tanaman dan lingkungan,Ph normal berkisar 6,5 sampai 7,5 mampu memperbaiki pH tanah.Mampu meningkatkan biodiversitas dan kesehatan tanah,memperbaiki tekstur tanah, sehingga tanah mudah diolah dan meningkatkan daya tahan tanah terhadap erosi,mampu meningkatkan produktivitas lahan antara 10-30%, karena biji tanaman lebih bernas dan tidak cepat busuk,tanaman akan dijauhi hama penyakit dan jamur,meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK)serta meningkatkan kapasitas cengkeram air “Pungkas Ruysaidi
saat ini juga  Rusiyadi juga mendirikan kelompok tani yang diberi nama Bangun Nagari yang beranggotakan 16 orang. Kegiatan yang dilaksanakan bergerak pada bidang pertanian dan peternakan.
Untuk kegiatan peternakan Pelda Rusiyadi beserta anggota kelompok tani membuka lahan untuk ditanami rumput Hijauan Makan Ternak (HMT) seluas 20 Ha kegiatan ini didukung oleh dinas Peternakan Kabupaten Tanah Datar dengan mendapat bantuan dana Rp. 140.000.000,- (Seratus Empat Puluh Juta Rupiah) dan dimanfaatkan untuk membeli sapi sebanyak 12 ekor serta penanaman rumput sehingga populasi sapi dalam 2 tahun dapat meningkat menjadi 48 ekor.
Penghargaan ini diterima oleh Pelda Rusiyadi Babinsa Ramil 11 Kodim 0307/Tanah Datar saat kegiatan apel Dandim dan Danrem se-TNI AD di Bandung, Senin (14/11/2016)
Selepas apel Dandim dan Danrem se-Angkatan Darat, Kasad secara langsung akan memberikan penghargaan atas kinerja Babinsa Ramil 11 Kodim 0307/Tanah Datar yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Tanah Datar.
Sementara itu Pelda Rusiyadi mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas penghargaan yang hari itu ia terima, ucapan terimaksih juga ia sampaikan kepada Dandim 0307 Letkol Inf Nandang Dymiati, keluarga besar TNI korem 0307, dan masyarakat Tanah Datar khususnya Nagari Pagaruyung.(alinurdin)


No comments:

Powered by Blogger.