SIMUNTU BUTUH PELESTARIAN .
Tanah
Datar,
Selain
makan baselo dan memakai kain sarung ,di Etape ke II even TDS ke 8 ,Kabupaten
Tanah datar juga menyajikan satu kebudayaan dan tradisi yang unik namun sangat
menarik bagi pengunjung dan peserta,mata para pengunjung tak lepas dari satu
sosok yang aneh dan bertingkah lucu.
Simuntu
salah satu tradisi Minangkabau mulai
hilang dan tergerus oleh kebudayaan luar .kalau ditanya kepada generasi muda
saat ini apa itu Si Muntu ,sudah barang pasti gelengan kepala yang akan
dilakukan mereka , Si Muntu yakni Seluruh tubuhnya dibungkus dengan ijuk . Wajahnya bertopeng seperti
monyet ,dan selalu bertingkah lucu,dan pada etape ke II ini Kabupaten Tanah Datar
berupaya memperkenalkan kembali sosok manusia ijuk ini.
Si Muntu
dikenal selalu mampu membuat penonton terpingkal-pingkal akibat tingkah lucunya
,seungguh menghibur hati terutama bagi anak-anak , Biasanya Si Muntu digunakan
untuk mencari sumbangan dan sumbangan itu diperuntukan bagi kepentingan
masyarakat seperti kegiatan anak nagari
berupa kegiatan olah raga atau kesenian.
Menurut Dt
putih Niniik Mamak di Nagari Andaleh Minggu (14/8) , Simuntu sudah ada sejak
jaman dahulu masa Kerajaan pagaruyung dan dipergunakan juga untuk menacari
sumbangan bagi kegiatan kalangan anak muda .Alkisah suatu ketika acara kesenian
memerlukan biaya yang cukup besar. Sumbangan ninik mamak saja tidak mencukupi.
Mau diminta kepada masyarakat nagari, tidak ada yang mau menjalankan les.
Ketika itulah ide untuk membuat si Muntu ditemukan.
“Si Muntu
diarak keliling kampung. Dia tidak bersuara. Dia tidak pula meminta. Tetapi di
kedua tangannya terpegang tangguk kosong. Bila merasa senang dengan kehadiran
si Muntu yang bisa melenggang lenggok di jalan sambil diiringi telempong, maka
berilah sesuatu ke dalam tangguk yang dia pegang” Katanya.
Dt putih
menyebutkan ,setiap acara di nagari Andaleh ini warga selalu menantikan Simuntu
ke rumahnya ,rupanya kehadiran si Muntu dapat menggugah hati masyarakat. Jarang
rumah yang didatangi tidak memberikan sumbangan. Sehingga modal acara kesenian
jadi berlebih. Sejak itu pula, sudah jamak di nagari-nagari mempergunakan si
Muntu sebagai pencari dana.
“Sehingganya keberadan si Muntu masa lalu dapat diibaratkan sebagai bentuk
proposal sebuah kegiatan”Ucap Dt Puith.
Sekaitan
dengan kurangnya Si Muntu di tonjolkan
Dt Putih mengungkapkan ,Kini zaman sudah berubah. Si Muntu sudah jarang
dipertontonkan lagi. Hiburan sudah banyak,Kalangan pemuda pun, kini maunya
serba instan.
Ia
mengharapkan ,agar Si Muntu terus dilestarikan melalui undangan ke acara yang
dilaksanakan baik oleh Pemkab maupun di seluru Nagari Di sumatera Barat
“Harapnya .(alinurdin)
No comments: