Advertisement

Sabtu, 08 Juli 2017

Wabup Kukuhkan Tabuah Larangan BUPATI IRDINANSYAH INGATKAN LEGALITAS








Tanah Datar .
Legalitas organisasi merupakan sebuah kunci agar keabsahan dan keberadaannya diakui oleh masyarakat ataupun pemerintah daerah, sehingga ketika laksanakan kegiatan tidak diliputi keraguan maupun kecemasan.
Ini diungkapkan Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi pada acara pengukuhan pengurus organisasi Tali Pambuhua Lima Kaum, Rambatan dan Pariangan (Tabuah Larangan) periode 2017-2023 di Balairung Sari Tabek Kecamatan Pariangan, Minggu (2/7) dihadapan Ketua Umum Tabuah Larangan dan sekaligus Wabup Zuldafri Darma, Ketua DPRD Anton Yondra, Wakil Ketua DPRD Irman, Sekda Hardiman, Forkopimda, Kepala OPD, Camat Lima Kaum, Rambatan dan Pariangan, serta Wali Nagari dan Ninik Mamak beserta undangan lainnya.
"Susunlah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga terlebih dahulu, sehingga organisasi ini punya visi, misi dan tujuan yang jelas, sehingga nantinya bisa tetap eksis dalam membantu pembangunan, penyelesaian masalah dan fenomena sosial lainnya di tengah kehidupan masyarakat khususnya di Kecamatan Lima Kaum, Rambatan dan Pariangan" sampai Irdinansyah.
Namun Bupati Irdinansyah  menyampaikan, organisasi tidak hanya untuk 3 kecamatan saja. "Organisasi ini jangan menjadi pemicu ataupun awal perpecahan organisasi serupa yang sudah berdiri sebelumnya, karena Saya percaya dibawah pimpinan Pak Wabup organisasi ini lebih baik, maju dan jaya di masa datang, apalagi yang terlibat dalam Tabuah Larangan ini, sebagian besar ninik mamak dan bundo kandung" harapnya.
Diakhir sambutannya Bupati Irdinansyah berharap, Tabuah Larangan bisa bersinergi dan kerjasama dengan Pemda untuk ciptakan masyarakat sejahtera, terutama dalam penerapan ABS SBK. "Jadikan organisasi ini sebagai wadah silaturahim dan sharing informasi, sesuai pepatah duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang dan bisa menjadi rujukan dan contoh bagi daerah lain di Tanah Datar" tukasnya.
Sementara sebelumnya ketua pelaksana Arseno Dt. Andomo menyampaikan, Tabuah Larangan dibentuk karena termotivasi dengan keberadaan organisasi serupa dibeberapa daerah tetangga. "Memang kita termotivasi berkat organisasi lain di beberapa daerah, namun pembentukan Tabuah Larangan tidak dalam waktu singkat, tapi sudah melewati kajian dan beberapa langkah penting lainnya, sehingga organisasi ini Insya Allah solid dan didukung semua pihak" terangnya.
A Dt. Andomo menekankan, Tabuah Larangan tidak terpengaruh dan terlibat dalam politik ke depannya. "Organisasi ini murni terbentuk karena keinginan tokoh dan masyarakat kita lainnya dalam rangka turut memajukan ketiga kecamatan dan Kabupaten Tanah Datar umumnya" sampainya.
Ketua Umum Tabuah Larangan yang juga Wabup Tanah Datar Zuldafri Darma Dt. Gindo Said menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung sehingga organisasi ini bisa terbentuk.
"Kecamatan Lima Kaum, Rambatan dan Pariangan merupakan pusek jalo kumpulan ikan Tanah Datar, sebab itu dirasa perlu membentuk Tabuah Larangan ini, disamping menjadi wadah silaturahim juga kita bertekad membantu visi dan misi Tanah Datar khususkan dalam bidang ABS SBK" ujar Zuldafri.
Disamping itu Zuldafri berharap pengurus dan masyarakat mendukung pelaksanaan program dan kegiatan Tabuah Larangan. "Saya harapkan dukungan semua pihak menjadikan Tabuah Larangan menjadi organisasi yang solid, tanpa dukungannya tentu tak bisa terlaksana dengan baik. Dan ke depan Saya berharap juga kepada Pak Bupati, kalau memungkinkan kita canangkan hari niniak mamak" pungkas Wabup.(alinurdin) 

BPCB Sumatera Barat jajaki temuan yang diduga Cagar Budaya “Prasasti Bukit Gado-Gado” Padang










Tanah Datar,
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat jajaki temuan yang diduga Cagar Budaya “Prasasti Bukit Gado-Gado” Padang. Minggu kedua dibulan Juni yang lalu tepatnya tanggal 6 Juni 2017 BPCB Sumatera Barat, Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kota Padang serta Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melakukan kegiatan bersama dalam rangka penjajakan/survei awal temuan yang diduga cagar budaya di Kelurahan Bukit Gado-Gado, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.
Kepada rakyat Sumbar  tim teknis BPCB Sumatera Barat yaitu Emi Rosman, S.H (Kapokja Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi), bersama Dodi Chandra, S.Hum (Staf Pokja Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi), didampingi Etweldi S.Pd (Kasi Kepurbakalan & Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Prov. Sumbar), mengatakan bahwa penjajakan ini merupakan kelanjutan dari laporan masyarakat yang menemukan benda yang di curigai adalah prasasti yang terletak di bukit gado-gado tersebut. Sehingga, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat sebagai instansi kebudayaan yang mempunyai tugas dan fungsi dalam Pelestarian Cagar Budaya membentuk tim survei awal. “Kami segera bergerak setelah menerima laporan dari masyarakat setempat. Pasalnya, jika memang hal tersebut bagian dari prasasti, pihak kami wajib melakukankan penyelamatan kepada prasasti tersebut,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, upaya yang dilakukan dalam rangka penyelamatan temuan yang masih diduga cagar budaya tersebut, dan kemudian untuk antisipasi kerusakan, kehancuran, kehilangan dari objek tersebut.  Sebagaimana dalam UU RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pasal 58 ayat 1 (a). mencegah kerusakan karena faktor manusia dan/atau alam yang mengakibatkan berubahnya keaslian dan nilai-nilai yang menyertainya. Ia menjelaskan untuk sampai ke lokasi penelitian, menempuh perjalanan waktu sekitar 1 jam, dengan suguhan pemadangan Kota Padang dari atas. Berdasarkan tuturan dari Ketua RW 02, lokasi prasasti merupakan lahan milik dari Bapak Nurlin.
Dalam penjajakan tersebut tidak hanya sebatas observasi lapangan, dilakukan pengukuran dan juga wawancara dengan pihak penemu dan warga setempat. Bahan yang prasasti berupa batuan andesit warna hitam keabu-abuan. Ukuran prasasti tersebut memiliki panjang 2 m pada sisi belakang,1,88 m pada sisi depan; lebar terkecil 1,5 m dan terlebar 1,9 m, sedangkan ketebalan bervariasi pada tiap sisi mulai dari 35 cm hinga 82 cm. Batu Prasasti tersebut tertancap ke dalam tanah sekitar 50 s.d 80 cm. Bapak Azwir Rajo Bungsu (Ketua RW 02) menuturkan sekitar 40 tahun yang lalu dirinya pernah melihat dipermukaan atas, dan sisi utara, timur dan barat batu tersebut berupa goresan-goresan yang menurut dia berbentuk “tulisan cacing”.
Dari laporan masyarakat sebelumnya, bahwa goresan-goresan yang menurut masyarakat setempat berupa “tulisan cacing”. Menurut Dodi Chandra (arkeolog BPCB Sumbar) menuturkan bahwa pada permukaan batu memang terdapat beberapa goresan benda tajam yang lebih pada angka, huruf dan simbol. Jelas terlihat terdapat goresan  angka tahun “1730, 1738, 11-10-1958” dan bahkan hingga tahun 2016. Simbol yang digoreskan juga masih asing, seperti huruf W, V, garis lengkung dengan penempatan acak.
“Melihat bentuk goresan di batu, kami memang belum bisa menyimpulkan terkait krolonogi waktu benda, dan makna dari goresan tersebut. Namun, analisa awal kami kemungkinan besar “Prasasti Bukit Gado-Gado” ini adalah prasasti masa Kolonial-Belanda dan bukan prasasti dari masa Klasik (Hindu-Buddha),” ujarnya Dodi. Indikasi tersebut, terlihat pada angka tahun dan huruf-huruf yang digoreskan sudah berbentuk huruf latin. Dugaan ini sangat berkaitan dengan keberadaan Bukit Gado-Gado pada masa lalunya, mengingat
bukit ini merupkan rangkaian dari Gunung Padang, yang pada masa pendudukan VOC dan Hindia-Belanda dikenal sebagai bukit Monyet (Apenberg).
Terlepas dari informasi tersebut, dari pengamatan tim BPCB Sumatera Barat  tidak terlihat goresan “tulisan cacing” yang kemungkinan merupakan aksara Kuno bisa berupa aksara Pallava, aksara Jawa Kuno. Namun, yang terlihat saat penjajakan hanyalah vandalisme dari pengunjung/pendaki yang menurut Aulia Rahman (penemu) lokasi sering di pergunakan oleh warga sekitar untuk sekedar olahraga di hari minggu atau hiking oleh Sispala yang ada di kota Padang, terutama oleh siswa di SMA 6 Padang.
Hal senada juga diutarakan Emi Rosman, perlu dilakukan upaya penelitian mendalam, dalam hal ekskavasi penyelamatan untuk mencari dan mengumpulkan data yang nantinya dapat mendukung dari temuan batu prasasti ini. Kemudian perlu juga hendaknya upaya perlindungan dari temuan ini, agar tidak bertambah rusak oleh aksi vandalisme.
Sementara Rina Endaharti (Kasi Cagar Budaya Dinas Pariwsata dan Kebudayaan Kota Padang mengatakan, “Kami akan berupaya cepat dalam pelestarian temuan ini, karena temuan ini merupakan temuan yang sangat berharga dalam kesejarahan Kota Padang,”. Senada dengan itu, Etweldi (Kasi Kepurbakalan & Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Prov. Sumbar juga menambahkan, kami akan mendukung segala upaya pelestarian yang nanti akan lakukan semua pihak harus berpartisipasi aktif dalam pelestarian tidak hanya pemeritah daerah, masyarakat pun juga punya kewenangan dalam pelestarian Cagar Budaya.
Terkait dengan keinginan pemuda dan masyarakat Bukit Gado-Gado dalam pemanfaatan objek batu prasasti sebagai objek wisata alam dan sejarah, pihak BPCB tidak membatasi keinginan tersebut, sesuai dengan yang tertuang dalam UU RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya bagian keempat pasal 85 ayat (1) : Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan setiap orang dapat memanfaakan Cagar Budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan pariwisata. Namun, BPCB Sumatera Barat nantinya akan melakukan sosialiasi dan kajian dan/atau analisis dampak lingkungan untuk meminimalisir kerusakan.9ALINURDIN)

PERANTAU PARIANGAN GELAR LIGA PULANG BASAMO










 Tanah Datar .
Memeriahkan lebaran, perantau dan masyarakat Nagari Sawah Tangah Kecamatan Pariangan menggelar Liga Pulang Basamo di Lapangan Sepakbola Bintang Timur Sawah Tangah. Kegiatan yang sudah digelar untuk ke 9 kali mendapat perhatian dari masyarakat setempat.
Sebanyak 10 tim berlaga memperebutkan Tropi Bergilir, Tropi Tetap, Tabanas bagi sang juara serta juga dipilih pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.
Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma pada penutupan Liga Pulang Basamo, Senin (3/07) mengungkapkan sangat mendukung penuh pelaksanaan pertandingan sepakbola yang dihelat memeriahkan kegiatan pulang basamo ini.
“Pulang basamo menjadi momentum merajut jalinan silaturahmi antara rantau dan ranah, dan masyarakat Sawah Tangah telah melaksanakan dengan baik,” apresiasi Wabup yang juga Ketua PSSI Pengkab Tanah Datar terpilih.
Zuldafri tambahkan dengan maraknya pelaksanaan kegiatan olah raga di nagari-nagari berarti turut memberi kontribusi positif penciptaan generasi muda Tanah Datar yang sehat, jauh dari pengaruh narkoba dan generasi yang menjunjung nilai-nilai sportifitas.
“Pemerintah daerah siap bersama-sama masyarakat, pemuda dan perantau secara bersama-sama menggairahkan kegiatan olah raga di Tanah Datar demi prestasi dan pretise Luak Nan Tuo di kancah provinsi dan nasional,” tegas Zuldafri.
Sementara Pj. Walinagari Sawah Tangah Elita, D dalam laporannya menyampaikan iven ini telah berlangsung semenjak 25 Juni 2017 yang lalu yang diikuti 10 tim dari rantau dan ranah se Kanagarian Sawah Tangah. Di antara tim yang ikut tim perantau Jakarta, perantau Riau, perantau Padang, perantau Dharmasraya, perantau Cilegon, tim tuan rumah PS Bintang Timur, PSG Gadung Batu serta tim lokal lainnya.
“Dahulunya Nagari Sawah Tangah dengan PS Bintang Timur cukup disegani di Kabupaten Tanah Datar dan sekitarnya, harapan itu yang ingin kita wujudkan bersama perantau kembali punya tim sepakbola yang kuat dengan pelaksanaan berbagai iven sepakbola,” terang Elita.
Pada pertandingan final saling berhadapan IGASTA Riau melawan IGASTA Jakarta. Setelah 2 x 45 menit berlangsung skor tetap 0-0 untuk kedua tim. Pertandingan berlanjut adu pinalti, akhirnya IGASTA Jakarta unggul 10-9 (0-0) setelah tendangan penendang terakhir dari kiper IGASTA Riau membentur tiang gawang dan gagal masuk.
IGASTA Jakarta berhak menggondol Piala Bergilir Perantau, Piala tetap dan hadiah sebesar Rp. 1 juta sementara IGASTA Riau meraih Piala tetap dan hadiah sebesar Rp. 750 ribu. Sementara pemain terbaik terpilih Farrel dari IGASTA Riau dan Boma dari PSG Gaduang Batu meraih sepatu emas sebagai top skor liga. 

PENDAFTARAN BAGI CALON WALINAGARI SUDAH DIMULAI.

Selasa, 04 Juli 2017

BUPATI PIMPIN APEL PERDANA SETELAH LIBUR IDUL FITRI 1438 H,LOUNCHING PILWANAG SERENTAK






Tanah Datar.
Bupati Tanah Datar H. Irdinansyah Tarmizi, Senin (3/7) paska libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, pimpin langsung apel bersama ASN di lingkungan Pemda Tanah Datar di halaman depan kantor bupati Kabupaten Tanah Datar.
Dalam sambutannya Bupati Irdinansyah Bersama Wabup Zuldafri Darma percaya kepada seluruh ASN dilingkungan Pemda Tanah Datar bahwa pada hari pertama masuk kerja tidak ada yang mangkir. Namun demikian menurut Irdinansyah absensi ASN sampai jam 5 sore tetap akan dilaporkan ke kementerian PAN-RB RI.
Irdinansyah juga menyampaikan bahwa kalau ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dan diselesaikan pada hari pertama kerja ini agar segera diselesaikan, jangan menunda-nunda untuk besok atau lusa.
Ditambahkannya pada hari raya Idul Fitri tahun ini Pemda sangat sibuk, karena perantau kita pada tahun ini pulang basamo serentak se-Nusantara. Dan setelah di cek ke nagari-nagari kami mendapatkan informasi bahwa sekitar 14 sampai 18 ribuan perantau kita tahun ini pulang. Hal ini menunjukkan kalau perantau kita sangat peduli dengan pembangunan di kampung halamannya, dan kita cukup bangga dan bersyukur dengan ini.
“Bayangkan saja apabila 1 orang perantau selama beberapa hari berada di kampung membelanjakan uangnya 200 ribu saja, berapa banyak uang perantau kita yang beredar di kampung halamannya”, sambung Irdinansyah.
Irdinansyah juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat Tanah Datar terutama yang berada ditempat-tempat tujuan wisata, karena selama libur lebaran ini tidak terdengar di tempat wisata adanya masyarakat yang melakukan 3 p (pangua, palak dan pakuak). Kalu hal ini terjadi, tentu akan mencoreng nama Tanah Datar di mata masyarakat luas.
Pada kesempatan ini juga dilaksanakan launching Pilwanag (pemilihan wali Nagari) serentak yang ditandai dengan pelepasan balon oleh Bupati, Wabup dan Forkopimda Tanah Datar. sementara Pilwanag serentak ini akan dilaksanakan pada tanggal 13 September 2017 mendatang.

Turut hadir pada pelaksanaan apel tersebut Wabup Zuldafri Darma, ketua DPRD Anton Yondra, Dandim Letkol Nandang Dimyati, Kajari M. Fatria, Ketua Pengadilan Negeri Batusangkar, Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Datar, Danramil dan Wali Nagari se-Tanah Datar.(alinurdin)

NAGARI SUMPU MENJADI TEMA FESTIVAL DANAU SINGKARAK.




Tanah Datar.
Festival Danau Singkarak dimulai,mengambil tema “Pesona Sumpu”mampu mendongkrak kunjungan ke alek tahunan tersebut,betapa tidak dianugerahi keindahan alam dan kaya dengan kulinernya seperti bilih,Panagek sumpu,singgang dan Rendang serta buah sawaonya ,Nagari Sumpur yang berada di tepian Danau Singkarak Kabupaten Tanah Datar pantas mendapatkan apresiasi dengan mencatumkan dan menjadi tema dari Pestival Danau Singkarak tahun ini.
 Kekayaan potensi yang dimiliki Nagari Sumpur yang menjadi bagian dari keindahan alam Sumatera Barat diperkenalkan di Festival kebanggaan rang Tanah Datar yang dilaksanakan dari tanggal 1-2 Juli 2017 yang dibuka langsung Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi yang dipusatkan di Batu Barabuang nagari Sumpur kecamatan Batipuh Selatan.
Turut hadir pada pembukaan tersebut anggota DPR RI Betty Shadiq Pasadigoe, anggota DPRD Tanah Datar Afrizal Moetwa, Forkopimda, Ketua TP PKK Ny. Emi Irdiannsyah Tarmizi Sekda Hardiman, Pimpinan OPD, Camat, Walinagari, Sekjen Masyarakat Minang Negeri Sembilan Malaysia Syahrial Bin Tarmizi dan Perantau KKTD/IKTD se Nusantara, serta ratusan wisatawan lokal dan mancanegara.
Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi dalam sambutannya mengatakan bangga dengan keindahan dan pesona danau Singkarak khusus nagari Sumpur, namun semua itu perlu kita jaga dan lestarikan keindahan alam serta kita akan jadikan agenda rutin tahunan sebagai salah satu untuk destinasi pariwista Tanah Datar, kata bupati.
“Saya sampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah mengelenggarakan kegiatan ini dalam mendukung destinasi pariwisata di kabupataen Tanah Datar”, kata Irdinansyah.
Bupati juga tambahkan Sumpur juga kaya dengan kelezatan kulinernya seperti Bilih, Pangek Sumpu, Singgang, Rendang serta buah Sawonya yang manis semua itu diharapkan bisa kita jaga dan kita promosikan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Tanah Datar khususnya ke nagari Sumpur.
Bupati juga berharap  dengan diadakannya Festival Danau Singkarak 2017 ini  dapat mempererat silaturahmi, melestarikan seni budaya, mempromosikan potensi wisata budaya, kuliner dan alamnya serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Nagari Sumpur di masa datang. Yang mana nantinya berdampak pada meningkatnya ekonomi masyarakat, terutama untuk masyarakat Nagari Sumpur, harap bupati.
Untuk ke depannya bupati tegaskan bagi pedagang yang berada di pinggiran danau secepanya akan ditata dan ditertibkan dan dalam waktu dekat akan dikeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) dan akan dituangkan dalam peraturan daerah, pungkas Bupati.
Sebelumnya tokoh masyarakat Sumpur Afrizal Moetwa yang sekaligus anggota DPRD Tanah Datar menyampaikan kegiatan ini sangat baik daan harus kita dukung sepenuhnya dan kita harapkan kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan khususnya pacu biduak yang merupakan kegiatan yang sangat diminati oleh masyarakat bahkan perantau yang sengaja pulang untuk menyaksikan alaek anak nagari Sumpur, harapnya.
Sementara itu anggota DPR RI Betty Shadiq Pasadigoe juga sampaikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan kegiatan ini dalam rangka melestarikan tradisi masyarakat seperti lomba pacu biduak, lomba kuriner dan seni anak nagari, “saya mendukung kegiatan ini dijadikan agenda rutin tahunan sebagai salah salah satu tujuan wisata sebagai sarana hiburan bagi perantau yang yang pulang kampung dalam rangka berlebaran”, ungkap Betty Shadiq.
Hal senada juga dikatakan Ketua Panitia Pelaksana Kamrita, kegiatan ini dilaksanakan dengan harapan melalui Even Pesona Sumpur Danau Singkarak 2017 kita wujudkan nagari Sumpur sebagai pariwisata nusantara dengan motto “Basamo mangko Manjadi”, ungkapnya.
Kamrita juga tambahkan kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini (1-2 Juli 2017) disi dengan berbagai kegiatan lomba di antaranya lomba seni dan budaya anak nagari, pacu biduak, dekorasi dan modifikasi biduakmanjalo di ate biduak, lomba fotografi, kuliner, mancing mania dan penampilan basilek dalam aia.

Kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan Pagelaran Seni dan Budaya anak Nagari Sumpur ini  akan menampilkan aneka tari, pertunjukkan randai, dan pertunjukkan musikal Talago Buni dan ada dimeriahkan dengan arak-arakan Bundo Kanduang Nagari Sumpur yang menjunjung talam.(alinurdin)

Jumat, 30 Juni 2017

WABUP RESMIKAN MUSHALA DI PARIANGAN.



Tanah Datar.
Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma meresmikan pemakaian mushalla dan MCK di Puncak Kawa Daun Jorong Guguak Nagari Pariangan Kecamatan Pariangan Rabu, (28/09). Mushalla dan MCK yang sederhana namun indah ini merupakan sumbangan Forum Peduli Luhak Nan Tuo (FPLNT).

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah daerah, kami mengucapkan apresiasi sekaligus terima kasih yang sebesar-besarnya kepada FPLNT dengan seluruh anggota atas kepeduliannya terhadap kemajuan pariwisata di Tanah Datar khususnya di Nagari Tuo Pariangan,” sebut wabup di awal sambutannya.

Wabup jelaskan tantangan terbesar pemerintah daerah bersama masyarakat Pariangan adalah meningkatkan sarana dan prasarana pendukung seperti akses jalan, ketersediaan MCK bagi wisatawan yang semakin ramai berkunjung dan membangun sikap sadar wisata dari masyarakat setempat.

“Sungguh sebuah anugrah dari Allah SWT, Nagari Tuo Pariangan telah dikenal ke seluruh dunia sebagai desa terindah di dunia, sehingga wisatawan berduyun-duyun datang ke Tanah Datar ingin menyaksikan secara langsung dan peluang wisata ini tidak boleh kita sia-siakan, serta pemda telah bertekad akan mempertahankan prediket ini dengan membenahi semua sektor pendukung,” sampai wabup.

“Tantangan dan tugas ini tidak akan mampu dilaksanakan oleh pemda Tanah Datar saja, tapi harus didukung Pemprov Sumbar, Perantau dan masyarakat setempat serta kita mohon dukungan dari CSR-CSR lembaga-lembaga swasta,” ajak wabup.

Lebih lanjut wabup sampaikan dengan booming Nagari Pariangan 2 tahun terakhir ini memberi ekses peningkatan kunjungan wisatawan ke Istano Basa Pagaruyung, Danau Singkarak dan beberapa objek wisata lainnya. Tidak hanya itu tentunya berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisatawan di Sumatera Barat.   

“Potensi besar wisata Tanah Datar dan Sumatera Barat dengan tanggap dibantu oleh Forum Peduli Luhak Nan Tuo dengan membangun mushalla dan MCK bagi pengunjung,” sebut wabup.

“Semoga ini menjadi pemicu dan pemacu bagi organisasi-organisasi perantau lainnya turut membantu pengembangan wisata di Pariangan ini,” harap wabup.

Senada dengan itu Pj. Walinagari Pariangan Mulkhairi menyambut baik pembangunan mushalla dan MCK di objek wisata Pariangan. “Pemerintah nagari dan masyarakat menyambut baik dan berterima kasih atas bantuan dari berbagai lembaga seperti CSR BUMN dan sumbangan perantau termasuk hari ini dari FPLNT membangun sebuah musahalla beserta MCK yang sangat dibutuhkan,” ulas Mulkhair.

Ketua FPLNT Masfet Yones merupakan sebuah forum yang diisi berbagai perantau dari berbagai daerah di tanah air dengan cita-cita turut memberi kontribusi terhadap pembangunan kampung halaman.

“Hari ini project pertama FPLNT kita serahkan kepada pemerintah daerah untuk bisa digunakan dengan baik serta dapat dijaga agar bisa bermanfaat dalam jangka panjang,” harap Masfet.

Masfet tambahkan kegiatan ini tidak terhenti sampai di sini saja tetapi akan kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa bermanfaat bagi Tanah Datar.

“Sumbangsih FLNT tidak akan terhenti sampai di sini saja, kita punya target ke depannya untuk terus membantu Tanah Datar dan ini butuh masukan dari pemerintah daerah dan masyarakat Tanah Datar sehingga bisa tepat guna dan tepat sasaran,” pungkas Masfet yang didampingi pengurus dan anggota FPLNT.  


Turut hadir pada kesempatan itu Ketua DPRD Anton Yondra, Camat Pariangan Suhardi, Forkompinca, perantau dan tokoh masyarakat.(alinurdin)